Feeds:
Posts
Comments

Taqwa berasal dari kata kerja “waqa, yaqi, wiqayah” yang artinya memelihara dan melindungi. Secara sifat dapat diartikan terpelihara dan terlindung dari penyakit; terutama sekali penyakit batin, yaitu syahwat; sedangkan syahwat itu artinya: “keinginan untuk memiliki dan menguasai sesuatu”. Jadi, taqwa itu adalah qalbu (hati) yang bersih, terpelihara dari dorongan-dorongan keinginan memiliki dan menguasai.

 Di dalam Al-Quran terdapat lebih dari 200 kata taqwa termasuk turunannya, baik yang berarti taqwa itu sendiri (taqwa); perintah takwa (wattaqulah – ittaqullah); dan orang-orang bertakwa (muttaqiin – tattaquun).

QS Al-Hasyr ayat 18 : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari hal tersebut maka kita dapat memahami bahwa taqwa merupakan hal yang sangat strategis di dalam ajaran Islam.

Sebagaimana kita ketahui dari hadis Rasulullah bahwa komponen ajaran Islam terdiri dari iman, Islam dan ikhsan.  Iman adalah kepercayaan kepada Allah (tauhid) dan kepercayaan kepada Rasulullah yang ditandai dengan dua kalimat syahadat sebagai pintu masuk ke dalam agama Islam (madkhulul ilal Islam). Sedangkan Islam adalah perwujudan keimanan yang di antaranya berupa peribadatan kepada Allah SWT. Ikhsan adalah satu sikap yang diperlukan di dalam mengabdi kepada Allah SWT yaitu merasa senantiasa berada di bawah pengawasan Allah SWT. Iman, Islam dan ikhsan pada akhirnya akan menumbulkan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai bekal kita menghadap Allah SWT.

Al-Baqarah ayat 197 : (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Sehubungan dengan tema kita kali ini adalah mengenai identitas orang-orang yang bertakwa,  Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang memberikan gambaran atau ciri-ciri orang bertakwa misalnya di dalam surat Al-Baqarah dan surat Ali-Imran. Kajian tentang identitas orang bertakwa dapat disebut juga al-muwasofat al-muttaqin atau sifat-sifat orang yang bertaqwa.

Dari berbagai uraian para ulama yang bersumberkan dari Al-Quran dan hadits maka dapat kita ketahui beberapa sifat-sifat yang utama (ummul muwasofat) dari orang bertaqwa adalah :

 

1.      Takut kepada Allah SWT.

Sebagian ‘ulama mendefinisikan “taqwa” sebagai “makhafatullahi wal-’amalu bi tha’atihi”; artinya: “Rasa takut kepada Allah, dan melaksanakan keta’atan kepada-Nya”. Karena hanya dengan hati yang takut dan diri yang tunduk kepada Allah, manusia bisa menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi larangan Allah.

QS An-Naaziaat ayat 40 : Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. 41. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

QS An-Nuur ayat 52 : Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Sabda Rasulullah SAW :

Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allâh daripada dua tetesan dan dua bekas. Tetesan yang berupa air mata karena takut kepada Allâh dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allâh. Adapun dua bekas, yaitu bekas di jalan Allâh dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban-Nya”.

Kholifah Ali bin Abi Tholib pernah ditanya tentang takwa, lalu beliau menjawab: Takut kepada Allah, beramal dengan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah) dan ridho dengan sedikit serta bersiap-siap untuk menhadapi hari kiamat.Sahabat Ibnu Abas menyatakan: Orang yang bertakwa adalah orang yang takut dari Allah dan siksaan-Nya.

Rasa takut kepada Allah SWT berbeda dengan rasa takut kepada hal lain yang ditakuti misalnya hewan buas atau keadaan alam. Rasa takut kepada Allah merupakan energy positif yang justru menyebabkan kita ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT karena di dalam rasa khauf (takut) ada roja (pengharapan) kepada Allah SWT.

QS Al-A’raaf ayat 56 : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima)dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

 

2.          Bersyukur kepada Allah SWT.

Rasa syukur adalah salah satu sifat orang yang bertakwa karena dengan rasa syukur seorang yang bertakwa menyadari bahwa apa yang ia peroleh apapun bentuknya berupa kesehatan, keamanan, harta kekayaan dan lain-lain adalah semata-mata karunia Allah SWT.

Al-Quran banyak memberikan pelajaran kepada kita tentang sikap syukur yang dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa misalnya Nabi Sulaiman yang dikenal mempunyai harta yang banyak dan ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain.

QS An-Naml ayat 40 :. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Rasulullah ketika ditanya oleh Aisyah mengapa melakukan sholat malam dengan lama sehingga kakai beliau bengkak, beliau menjawab dengan pertanyaan : Afalaa akuuna abdan syakuraa (tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur).

 

3.          Berhati-hati di dalam kehidupannya.

Sahabat Rasululllah Umar bin Al Khathab pernah bertanya kepada sahabat yang bernama Ubai bin Ka’ab tentang takwa. Ubai bertanya: Wahai amirul mukminin, Apakah engkau pernah melewati jalanan penuh duri? Beliau menjawab: Ya. Ubai berkata lagi: Apa yang engkau lakukan? Umar menjawab: Saya teliti dengan seksama dan saya lihat tempat berpijak kedua telapak kakiku. Saya majukan satu kaki dan mundurkan yang lainnya khawatir terkena duri. Ubai menyatakan: Itulah takwa !

Orang yang bertakwa senantiasa berhati-hati di dalam menjalani kehidupannya agar tidak terjerumus kepada perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, termasuk juga perbutan yang dilarang oleh ketentuan yang mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara di tempat ia hidup atau tinggal.

 

4.      Peduli kepada sesama makhluk Allah SWT.

Orang yang bertaqwa, di samping memelihara hubungan dengan Allah SWT juga selalu memelihara hubungan dan peduli dengan sesama manusia. Ini berarti bahwa ajaran Islam mengembangkan keseimbangan dan keutuhan (tawazun dan syumuliah). Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT harus disertai dengan kebaikan yang ditebarkan kepada sesama manusia.

QS An-Nisa ayat 36 :  “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

QS Ali-Imran ayat 133 dan 134 : Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Pesan terakhir dari Rasulullah yang dibisikkan kepada Ali bin Abi Thalib menjelang wafat beliau adalah : “Peliharalah sholat dan orang-orang yang lemah di antara kalian”. Pesan ini mengingatkan agar kita terus memelihara hubungan dan berbuat baik kepada Allah melalui sholat dan ibadah yang lainnya serta memelihara hubungan baik dan peduli kepada sesama manusia di muka bumi ini, dengan mendoakan, membantu, melindungi dan menyantuni orang-orang yang memerlukannya.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Ad-Dzikri, 1 Agustus 2012 (12 Ramadhan 1433 H).

 

         

Di dalam menghadapi bulan Ramadhan tahun ini tentu kita semua berniat untuk melaksanakan puasa dengan sebaik mungkin, bahkan kita ingin kiranya puasa kita lebih baik daripada puasa kita tahun kemarin.

Untuk mencapai tingkat atau derajat puasa yang kita inginkan diperlukan ilmu pengetahuan agar puasa kita sesuai dengan kehendak Allah SWT dan teladan Rasulullah SWT.  Oleh karenanya mencari ilmu dan menggali Al-Quran menjadi kewajiban bagi setiap muslim agar kita menjadi orang-orang yang memperoleh ilmu dari Allah SWT,  sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Ankabut ayat 49 yang artinya : “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.

Dari ayat ini Allah mengingatkan bahwa ilmu itu terdapat di dalam Al-Quran termasuk juga ilmu tentang puasa sebagai suatu ibadah yang diistimewakan oleh Allah SWT.  Keistimewaan ibadah puasa dapat dikaji dari hal-hal berikut : 

  1. Perintah puasa diuraikan di dalam rangkaian ayat yang berurutan mulai ayat 183 s/d ayat 187 dalam surat Al-Baqarah. Hal ini berbeda dengan perintah ibadah yang lain, perintah sholat misalnya diperintahkan dalam beberapa ayat dalam berbagai surat yang berbeda yaitu di antaranya dalam surat  Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa,  Al-Maidah, Al-A’raf, Al-Anfaal, At-Taubah, Al-Israa, dan lain-lain.  Demikian juga perintah haji, zakat, dan puasa tersebar di beberapa ayat pada surat-surat Al-Quran.
  1. Perintah puasa di dalam Al-Quran disertai dengan hukum-hukumnya atau yang biasa disebut fiqih. Dalam hal ini al-Quran menyebutkan siapa saja yang boleh membatalkan puasa (yaitu orang yang sakit, orang yang sedang dalam perjalanan dan orang yang sudah tua). Dijelaskan juga dalam ayat 184 bahwa orang sakit dan shafar harus mengganti  puasa pada hari lain (meng-qada) dan orang yang sudah tidak kuat berpuasa atau (sakit tua) harus membayar fidyah. Kemudian dijelaskan dalam ayat 187 tentang hal-hal yang membatalkan puasa yaitu makan, minum, dan berhubungan suami isteri.
  1. Ibadah Puasa adalah ibadah yang paling lama waktu pelaksanaanya. Hal ini berbeda dengan ibadah sholat, zakat, bahkan dengan ibadah haji. Ibadah puasa dilaksanakan dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari, selama sebulan penuh (menurut hadist adalah minimal 29 hari dan maksmial 30 hari).  Sedangkan ibadah sholat hanya beberapa menit. Kemudian ibadah haji, kata orang Indonesia 40 hari padahal manasik haji yang wajib hanya beberapa hari. Zakat juga dilakukan sebentar saja, mungkin yang lama adalah menghitung berapa zakat yang akan dibayarkan dan pembagian zakatnya;
  1. Perintah puasa dimulai dengan yaa ayyuhaadzina amanu kutiba alaikumushiyam.  Hal ini menggambarkan bahwa banyak yang orang yang berpuasa namun sedikit dari mereka yang berpuasa yang didasarkan keimanan.  Adapun kalimat kutiba (diwajibkan) tidak menunjuk kepada subyek yang mewajibkan. Perintah ini adalah juga ujian bagi orang-orang yang beriman. Hanya orang yang beriman akan mengikuti atau mentaati perintah kebaikan walaupun tidak disebutkan siapa yang memerintahkannya karena ia menyadari bahwa setiap perintah yang baik adalah datangnya dari Allah SWT atau setidak-tidaknya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Hal ini ada kaitannya dengan ujian kepada orang yang beriman adalah keimanan kepada hal-hal yang ghaib karena orang akan mudah percaya kepada yang dzohir (nyata) dibandingkan kepada yang tidak nyata namun orang-orang beriman percaya kepada yang gaib seperti percaya kepada Allah SWT, malaikat, takdir, dan lain-lain.

Kitab-kitab fikih ternyata banyak membahas hal-hal yang membatalkan puasa dan kurang membahas  hal-hal yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Hal ini dapat dimengerti kerena memang fikih pada umumnya mengatur hal-hal yang bersifat lahiriah.

Berkaitan dengan hal di atas, di antara para ulama ada yang membedakan pengertian  shiyam dan shaum. Shiyam adalah ibadah berpuasa dan menahan diri dari makan dan minum serta menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya termasuk memelihara diri, pikiran dan, hati, dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Sedangkan pengertian shaum sebagaimana terdapat firman Allah SWT dalam QS Surat Maryam ayat 26 yang artinya : “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. Dalam ayat ini diartikan  bahwa shaum Siti Maryam adalah berpuasa untuk satu amal saja yaitu puasa tidak bicara kepada manusia.

Jadi shiyam lebih luas daripada shaum karena di dalamnya mencakup khalqiyah dan khuluqiyah sekaligus serta mencakup mujahaddah dan musyarokah dalam mencapai tujuan dan pahala puasa. 

Memang shiyam dan shaum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata ”puasa” namun kita seyogyanya berupaya untuk melakukan puasa dalam tingkatan shiyam dan tidak  sekedar shaum. Imam Al-Ghazali pernah membagi tingkatan orang yang berpuasa ke dalam tiga tingkatan yaitu : yaitu puasa umum (aam), puasa khusus, dan puasa khusus yang lebih khusus lagi (khususil khusus).

Kemudian kita juga harus memperhatikan sabda Rasulullah : Man shoma romadhona imanan wakhtisaban, ghufirolahu ma taqodama min dzanbih. Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda : Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosanya yang telah lalu. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari hadis Nabi ini maka kita tentunya tidak sekedar berpuasa tetapi lebih harus lebih daripada itu yaitu puasa itu harus disertai keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah atau dalam kata lain itulah shiyam. Marilah kita mencoba berpuasa dalam makna shiyam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan bukan semata dalam makna shaum. Karena bila kita sekedar ber-shaum, balasan yang akan diperoleh adalah sebagaimana sabda Nabi laisa lahu jaza’un illal juu’ wal ‘athas sedangkan bagi mereka yagn shiyam adalah gufira lahu ma taqaddama min danbihi atau kharaja min dzunubihi ka yaumin waladathu ummuh. Wallahualam bishshawwab …

Kajian “Jama’atul Muslimin” ini merupakan pelengkap materi Fiqh Berjamaah dan termasuk materi pokok di dalam kajian Islam bahkan dapat dikatakan sebagai puncak materi. Sebagaimana diketahui bahwa materi-materi dasar atau pokok sudah disampaikan kajian awal  seperti akidah, ibadah, ukhuwah Islamiyah, dan lain-lain. Kajian ini merujuk kepada kitab – kitab para ulama di antaranya adalah “Menuju Jama’atul Muslimin” yang ditulis oleh Ust Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir MA.

Pengertian : Jama’atul Muslimin adalah bersatunya kaum muslimin dalam satu urusan dan satu garis komando serta sepakat menetapkan suatu jamaah dan ikut di dalam satu kepemimpinan (khalifah). Dari pengertian ini terdapat tiga unsur jamaah yaitu :

1. Umat / jamaah;

2. Al ahli wal aqd / para ulama yang mewakili umat;

3. Pemimpin / kekhalifahan / amir.

Catatan :

Unsur-unsur dan kondisi kejamaahan ini mirip prosesi pembaiatan Abu Bakar sebagai khalifah karena dilakukan melalui keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan para sahabat besar (shohibul kabiir) yang mewakili umat Islam pada saat itu.

 Jamaatul Muslimin menempati posisi yang sangat penting karena beberapa sebab, yaitu :

1. Untuk menjelaskan dan sekaligus menjalankan hukum Islam secara baik dan benar diperlukan adanya jamaah.  Dalam hal ini, misalnya penetapan/pelaksanaan qisas, jihad, peradilan syariat Islam  dan lain-lain harus ditetapkan oleh khalifah;

2. Untuk melaksanakan syariat di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 103-105 mengenai perintah untuk bersatu dan larangan untuk bercerai berai. “103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. 104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. 105. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”.

3. Untuk menyempurnakan hal-hal yang diwajibkan misalnya perintah amar ma’ruf nahi munkar, hudud, jual beli dan lain-lain diperlukan adanya jamaah.

Pada saat ini umat Islam di dunia belum mempunyai suatau Jamaatul Muslimin, kalau pun ada negara Islam atau kelompok tertentu maka baru dapat disebut sebagai Jamaatul minal Muslimin.

 *) Disarikan dan Kitab “Menuju Jama’atul Muslimin” yang ditulis oleh Ust Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir MA dan uraian Ust Muhsinin Fauzi, Lc., Ahad, 7 Maret 2010

Sedekah memiliki keutamaan dan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Hanya orang yang diinginkan Allah dan diberi-Nya taufik yang akan mendapatkan itu semua. Terdapat banyak keutamaan atau kebaikan sedekah. Oleh itu setiap muslim dan mukmin seharusnya merebut peluang yang besar ini untuk kebaikan di dunia dan akhirat.

Di antara banyaknya keutamaan sedekah dapatlah diuraikan beberapa di antaranya sebagai berikut :


1. Sedekah Sebagai Pembersih dan Pensuci Diri :

Firman Allah SWT : “Ambilah (sebahagian) dari harta mereka menjadi sedekah (zakat), supaya dengannya engkau membersihkan mereka (dari dosa) dan mensucikan mereka (dari akhlak yang buruk) dan doakanlah untuk mereka, kerana sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka. Dan (ingatlah) Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.” (Surat At-Taubah ayat 103).

Oleh karena itu jelaslah bahwa sedekah merupakan pembersih dan pensuci sekaligus sebagai penghapus dosa dan kesalahan. Bahkan sedekah juga akan mengangkat derajat orang yang menunaikannya.

2. Sedekah Memenuhi Perintah Allah dan Rasul-Nya :

Firman Allah SWT : “Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum seorang dari kamu sampai kematian kepadanya, (kalau tidak) maka ia (pada saat itu) akan memohon dengan kata-katanya : “Wahai Tuhanku ! Alangkah baiknya kalau Engkau lambatkan kedatangan kematianku ke suatu masa yang sedikit saja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi dari orang-orang soleh.” (Surah Al-Munafiqun ayat 10).

3. Orang Mukmin Mendapat Perlindungan Dengan Bersedekah Pada Hari Kiamat :

Dalam sebuah hadis diceritakan bahawa ada tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah pada hari di mana tiada perlindungan sama sekali selain perlindungan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : “…..Seorang lelaki yang bersedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.” (Hadis Riwayar Bukhari dan Muslim)


4. Sedekah Melindungi Dari Bahaya dan Musibah, Serta Menolak Su’ul Khatimah

    (Kematian yang Buruk)

Sedekah mampu memberikan pengaruh yang luar biasa kepada orang yang menunaikannya. Salah satu manfaat sedekah adalah ia memelihara seseorang dari segala macam bahaya dan musibah. Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh sedekah itu akan memadamkan kemarahan Tuhan dan menghindarkan dari kematian yang buruk (Su’ul Khatimah).” (Hadis Riwayat Al-Turmudzi)

Al-Mubarakfuri menceritakan bahawa Imam al-Iraqi pernah berkata : “Jika difahami secara zahir apa yang dimaksudkan dengan kematian yang buruk adalah seperti meninggal dalam runtuhan , jatuh di tempat tinggi, mati lemas, mati terbakar, diganggu syaitan ketika sakratul maut dan mati ketika sedang melarikan diri dari medan perang dimana keadaan-keadaan seperti ini di mana Rasulullah SAW memohon kepada Allah untuk dijauhkan daripadanya.”

Oleh itu, maka sadarilah betapa besarnya keutamaan dan manfaat sedekah dalam membuat seseorang mati dalam keadaan husnul al-khatimah (kematian yang baik). Begitu pula manfaatnya dalam menjaga seseorang dari segala bentuk bahaya dan musibah.

 

5. Sedekah Merupakan Bukti di atas Kebenaran Iman :

Rasulullah SAW bersabda “Kebersihan adalah sebahagian daripada iman, alhamdulillah memenuhi timbangan; dan subhanallah wal-hamdulillah mengisi apa-apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti (di atas kebenaran keimanan), sabar adalah penerang dan al-Qur’an adalah dalil bagi kamu. Setiap manusia di pagi harinya akan menjual dirinya. Dialah yang memutuskan keadaan dirinya, apakah melakukan perbuatan yang menyelamatkan dirinya atau membinasakannya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Imam al-Nawawi menjelaskan penggal hadis ‘sedekah adalah bukti’ bahwa sedekah adalah dalil atau bukti di atas kebenaran iman orang yang menunaikannya karena orang munafik tidak akan mau mengeluarkan sedekah, kerana tidak meyakini keutamaan sedekah.

 

6. Sedekah Menyelamatkan Seorang Muslim dari Belenggu Hati

Belenggu hati bagi seorang Muslim adalah berasal dari dosa dan maksiat yang dia lakukan. Kebanyakan kita tidak sedar dengan adanya belengu ini. Oleh kerana, seorang Muslim sangatlah berhajat kepada sesuatu yang mampu melepaskan belenggu itu.

Rasulullah SAW bersabda : “Aku memerintahkan kamu bersedekah. Perumpamaan perkara itu sama seperti seorang lelaki yang ditawan oleh musuh. Mereka mengikat tangannya terbelenggu dilehernya. Lalu yang lain datang untuk memukul lehernya. Maka berkatalah (sedekah): ‘Aku menebusnya dari kamu banyak atau sedikit. Sehingga (sedekah) menebus dirinya dari mereka.” (Hadis Riwayat al-Turmudzi).

Di dalam hadis ini Rasulullah SAW mengumpamakan orang yang bersedekah sebagai orang tawanan. Kemudian datanglah sedekah untuk membebaskannya dari ikatan belenggu. Dengan sebab sedekah, Allah SWT akan menghindarkan bermacam-macam bala dan musibah berasal dari orang yang membuat maksiat, orang zalim atau orang kafir.

 

7. Allah Akan Menggantikan Harta Orang yang Bersedekah :

Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah hamba-hamba Allah bangun di pagi hari, kecuali disertai dengan turunnya dua malaikat. Salah satu dari keduanya lalu berkata : ‘Ya Allah berilah orang yang berinfaq ganti (dari barang yang diinfaqkan)’. Dan salah satu lagi berkata : ‘Ya Allah berilah kerigian bagi orang yang menahan (bakhil).” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)


8. Pahala Sedekah Sentiasa Mengalir Kepada Orang yang Bersedekah Setelah Ia

    Meninggal Dunia :

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila anak Adam (manusia) telah meninggal dunia, maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara : sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang soleh yang mendoakan kepadanya.” (Hadis Riwayat Muslim).

 

9. Sedekah Menghapuskan Kesalahan (dosa)

Rasulullah SAW bersabda : “Sedekah akan memadamkan kesalahan (dosa), sebagaimana air memadamkan api.” (Hadis Riwayat At-Turmudzi)

10. Sedekah Akan mengundang Rezeki :

Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Alquran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ”Pancinglah rezeki dengan sedekah.”

11. Sedekah dapat menyembuhkan penyakit dan memanjangkan umur :

Rasulullah SAW menganjurkan, ”Obatilah penyakitmu dengan sedekah.” Rasulullah SAW  juga mengatakan : ”Perbanyaklah sedekah, karena sedekah bisa memanjangkan umur.” 

Uraian di atas menggambarkan kepada kita bahwa sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan keridhoan Allah SWT serta dapat mendatangkan pertolongan Allah SWT.

Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang bersedekah. Apabila Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).

Kekuatan dan kekuasaan Allah SWT jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya, masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai dan mengamalkan sedekah ? Wallahu a’lam bis-shawab.

(dari berbagai sumber)

Kita tentunya menghendaki agar kehidupan kita semua berjalan dengan baik. Kita juga menghendaki agar ibadah dapat kita lakukan dengan sebaik-baiknya karena kita menyadari bahwa amal ibadah itu adalah bekal kita untuk menghadap-Nya di hari akhir nanti. Rasulullah SAW mengingatkan ada tiga faktor yang dapat merusak ibadah dan kehidupan kita, beliau bersabda : “ Ada tiga perkara yang dapat merusak yaitu : “Hawa nafsu yang diperturutkan (diikuti), sifat kikir yang ditaati, dan sifat ujub terhadap diri sendiri”.

1. Hawa nafsu merupakan hal yang senantiasa ada pada mahluk hidup baik manusia maupun hewan dan karenanya mahluk hidup tidak dapat menghilangkannya dari kehidupan ini. Hawa nafsu atau keinginan yang mendasar adalah keinginan untuk mempertahankan hidup dengan makan, minum, berkeluarga dan lain sebagainya. Agama Islam sudah memberikan panduan tentang bagaimana keinginan-keinginan itu disalurkan dengan cara-cara yang baik karena apabila hawa nafsu atau keinginan itu diwujudkan dengan cara yang tidak baik maka akan merusak kehidupan manusia. Contohnya, hawa nafsu atau keinginan untuk makan dan minum, sebagaimana petunjuk agama Islam haruslah dilakukan dengan makan atau minum yang halal dan baik. Tentunya makan dan minum sesuatu yang haram dan tidak baik akan merusak tubuh dan menimbulkan berbagai macam penyakit.

QS Al-Jaatsiyah ayat 23 : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

QS Ali Imron ayat 14 : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

2. Sifat kikir yang ada di dalam diri manusia merupakan sifat yang buruk walaupun sebagian orang mengatakan bahwa kikir adalah baik karena artinya hemat. Namun sifat kikir berbeda dengan hemat, karena sifat kikir merujuk kepada suatu sifat egois dan tidak peduli kepada kebutuhan orang lain.

Allah SWT mengingatkan kita semua dalam firman-Nya Surat Ali Imran ayat 180 : Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Rasulullah memberikan pesan kepada kita untuk senantiasa berdoa yang berbunyi : Allahumma inni a’udhu bika min al-hamm wa al-hazan, wa a’udhu bika min al-‘ajzi wal-kasal, wa a’udhu bika min al-bukhli wal-jubn, wa a’udhu bika min ghalbat ad-dayn wa qahr ar-rijali “Ya Allah, lindungilah aku dari rasa bimbang (susah) dan sedih, lindungilah aku dari kelemaha dan kemalasan, lindungilah aku dari sifat kikir dan pengecut, lindungilah aku dari hutang dan tekanan orang lain”

3. Sifat ujub atau sombong kepada diri sendiri juga merupakan sifat yang dilarang oleh Allah SWT karena akan menjerumuskan kepada keburukan seperti dikeluarkannya iblis dari surga adalah akibat dari kesombongannya. Hal ini digambarkan dengan jelas di dalam QS Al-A’raaf Ayat 12 dan 13 : Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Demikian pula Karun, diazab oleh Allah dengan membenamkannya ke dalam tanah akibat kesombongannya. Sebagaimana firman Allah di dalam QS Al-Qashash ayat 78 – 81 : Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

Semoga kita mampu menghindari tiga perkara tersebut  yang dapat merusak kehidupan dan amal-amal ibadah kita. Wallahualam bishshawwab ….

Pondok Indah, 15 Mei 2012

 

 

Pertanyaan ini bagi kita umumnya mungkin hampir tidak pernah terpikirkan karena kita memang hidup di lingkungan yang beragama. Pada umumnya kita beragama secara keturunan dan otomatis kita mengikuti agama orang tua kita. Selanjutnya kita kemudian mendapat pendidikan yang memperkuat keberagamaan kita dan setelah dewasa terkadang kita mencari kebenaran dari agama yang kita anut sejak kecil tersebut.

Kita harus bersyukur bahwa kita lahir dari keluarga yang beragama Islam dan ini merupakan nikmat besar yang harus disyukuri. Kita tidak bisa membayangkan apa jadinya kita seandainya lahir dari keluarga yang tidak beragama. Bisa jadi setelah dewasa akan berusaha mencari kebenaran dalam agama, atau boleh jadi juga menganggap agama sebagai candu sehingga tidak perlu beragama, tidak butuh akan Tuhan. Naudzubillah min dzalik.

Istilah agama merupakan terjemahan dari Ad-Din (dalam bahasa Arab). Ad-Din dalam Al Quran disebutkan sebanyak 92 kali. Secara bahasa, dîn diartikan sebagai “balasan” yaitu di dalam  Al Quran yang menyebutkan kata dîn dalam surat Al-Fatihah ayat 4, “Maliki yaumiddin – “(Dialah) Pemilik (raja) hari pembalasan. Begitu juga pada sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, ad-dînu nashihah (Agama adalah ketaatan).Juga dalam Al-Baqarah ayat 256 “Laa ikraaha fiddin” (“tidak ada paksaan dalam agama …“).  

Secara istilah, din diartikan sebagai sekumpulan keyakinan, kepercayaan, hukum, dan norma yang diyakini dapat mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan manusia. Kebahagian dan keselamatan inilah yang sering menjadi cita-cita yang ingin dicapai tiap umat manusia di dunia. Siapa sih yang tak mau bahagia? Tentu sedikit sekali orang yang tak menginginkan hal tersebut. Dan kebanyakan orang sangat berharap dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Melalui sejumlah kajian maka para pemikir dan ulama mencoba menjawab pertanyaan di atas dan jawaban atas pertanyaan tersebut adalah :

  1. Manusia secara naluri dan fitrahnya memang sangat membutuhkan agama.

Manusia pada dasarnya membutuhkan agama karena hal ini yang membedakan manusia dengan mahluk lain seperti hewan. Dalam beberapa hal, ada kesamaan antara manusia dengan hewan, yaitu sama-sama sebagai mahluk Allah SWT, sama-sama mempunyai keinginan-keinginan biologis dan sama-sama mempunyai perasaan takut, sedih, dan gembira dan lain-lain. Manusia merupakan mahluk yang unik dan istimewa. Secara fisik manusia lebih lemah dibandingkan dengan hewan tetapi manusia mempunyai jiwa dan akal yang dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah dan lain sebagainya.

Al-Qur’an Surat Al-Ar’af menerangkan kepada kita bahwa sesungguhnya di alam ruh manusia sudah berjanji dan menyaksikan bahwa Allah SWT adalah sang Maha Pencipta.

Juga Al-Quran Surat Al-Baqarah dari ayat 1 s/d ayat 20 menceritakan golongan-golongan manusia. Para mufasirin menfasirkan bahwa ayat 1 – 5 menerangkan orang-orang yang beriman, ayat 6 – 7  menerangkan orang-orang yang kafir, dan ayat 8 – 20 menerangkan keadaan orang yang munafik. Dari 20 ayat yang diturunkan pada awal surat ini ternyata hanya 2 ayat saja yang menerangkan mengenai orang-orang kafir. Hal ini  yang ditafsirkan bahwa kebanyakan manusia sebenarnya beriman namun yang paling banyak jumlahnya adalah golongan orang-orang atau kaum munafiqin yang senantiasa berada dan ragu di antara keimanan dan kemunakran mereka.

Adapun dari segi kehidupannya maka manusia terbagi ke dalam tiga golongan yaitu golongan (a) Manusia yang mengabdikan hidupnya hanya untuk kehidupan dunia sebagaimana difirmankan QS Al-Anam ayat 29 dan Al-Jatsiyah ayat 24. (b) Manusia yang tidak mempunyai arah / tujuan hidup yang jelas sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah ayat 14 (c) Manusia yang menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang bagi kehidupan di akhirat kelak, hal ini dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 dan Al-An’am ayat 32. 

  1. Manusia tidak mempunyai jawaban yang pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta.

Pada saat Nabi Adam diturunkan ke bumi maka timbul kebingungan dalam dirinya tentang bagaimana menghadapi kehidupan di bumi, maka Allah SWT memberi tuntunan melalui wahyu dan isyarat-isyarat yang diturunkan kepada beliau. Bahkan sebelum Nabi Adam diciptakan-Nya para malaikat berdialog dengan Allah SWT tentang mahluk yang akan diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di bumi (Al-Baqarah ayat 30-34). Pertanyaan yang disampaikan malaikat adalah bentuk keprihatinan kepada manusia yang cenderung menjadi mahluk pembangkang namun Allah berfirman bahwa Allah lebih mengetahui daripada apa yang diketahui para malaikat. Dan selanjutnya Allah memberikan pelajaran mengenai nama-nama benda kepada nabi Adam sebagai pengetahuan dan menjadikan kedudukan atau derajat  Nabi Adam yang lebih tinggi daripada malaikat sehingga malaikat diperintahkan sujud kepada Nabi Adam.

  1. Manusia sangat membutuhkan pedoman untuk mengatur kehidupan di dunia dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan di akhirat.

Manusia sebagai mahluk individu sekaligus sebagai mahluk sosial sangat memerlukan aturan dalam seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari menyalurkan kebutuhan yang paling dasar sampai memenuhi kebutuhannnya yang primer, sekunder dan tersier. Semua aspek kehidupan ada aturannya apalagi untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Ilmuwan barat di antaranya Schumacher menyatakan bahwa materialisme sudah mati, manusia sekarang mencari spiritualisme sehingga menurut hemat kita pencarían dan kembalinya manusia terhadap agama merupakan jawaban yang tepat.

Tentu saja banyak alasan dan jawaban lain mengapa manusia membutuhkan agama. Namun dari uraian di atas diharapkan kesadaran beragama kemudian muncul dari pemahaman yang menyeluruh tentang fungsi agama / din sehingga pertanyaan berikutnya adalah mengapa kita membutuhkan dienul Islam? Uraian dan jawaban mengenai hal tersebut insya Allah akan dilanjutkan pada materi kultum berikutnya. Wallahu’alam bishshawab …

 Pondok Indah, 4 Mei 2012

Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa ridho Allah sebagai tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul dan utusan Allah maka wajiblah baginya surga.

Para ulama menyebutkan bahwa hadis ini adalah mengenai kunci surga artinya barang siapa yang berkeinginan masuk surga haruslah :

1. Mengakui dan ridho bahwa Allah SWT adalah satu-satunya tuhan yang wajib disembah :

Mengakui dan ridho bahwa Allah swt adalah tuhan kita ternyata tidak semudah yang diucapkan karena dalam banyak hal manusia masih saja ‘mempertuhankan’ yang lain. Terkadang manusia mempertuhankan materi atau harta, kedudukan dan jabatan. Belum lagi manusia yang mengakui Allah SWT sebagai tuhannya namun tidak mau beribadah sesuai dengan ajaran-Nya.

Di dalam ajaran ahli sunnah wal jamaah,  keimanan kepada Allah SWT haruslah lengkap sehingga meliputi Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wasifat.

Rububiyah adalah beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al-Quran Surat Az-Zumar ayat 62 :“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu“. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).“ (Ath-Thur: 35-36)

Pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah otomatis menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy  mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al-Mu’minun: 86-89).

Uluhiyah (ibadah) adalah beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Imran: 18). Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti salat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai perkataan mereka itu “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Allah semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Allah dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

Sedangkan did alam asma wa sifat, kita beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma’ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.

 

 2. Mengakui dan ridho bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang dianutnya :

Setelah seorang muslim menyatakan keislamannya maka ia  harus berupaya semaksimal mungkin menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya serta memurnikan ibadahnya untuk hanya dilakukan menurut ajaran Islam yang tidak dicampuri dengan ajaran atau adat istiadat lainnya.

 

3. Mengakui dan ridho bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya yang terakhir yang akan diikuti ajarannya (ittiba Rasul).

Mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya adalah berarti seorang muslim harus berupaya menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan atau teladan dalam kehidupannya. meneladani Rasul juga artinya menjadikan kita selalu berupaya untuk mempunyai sifat-sifat amanah, jujur, adil dan sifat-sifat baik lainnya yang dimiliki dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Masjid Ad-Dzikri, 19 Maret 2012